AdventorialDPRD PPU

Air Menipis Saat Kemarau, DPRD PPU Dorong Irigasi Jadi Prioritas Pertanian

13
×

Air Menipis Saat Kemarau, DPRD PPU Dorong Irigasi Jadi Prioritas Pertanian

Sebarkan artikel ini
Foto: Kondisi kemarau di salah satu sumber air baku di daerah Sepaku. (Konus.co) 

Konus.id, PPU-Kemarau panjang mulai menekan sektor pertanian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Ketersediaan air yang semakin terbatas membuat petani harus memilih lahan yang masih memiliki sumber air agar aktivitas pertanian tetap bisa berlangsung.

Kondisi tersebut menunjukkan sektor pertanian PPU masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap sumber air alami. Ketika curah hujan menurun dalam waktu panjang, ruang bagi petani untuk mempertahankan produksi ikut menyempit.

Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati, mengatakan kemarau yang berlangsung saat ini membuat persediaan air untuk kebutuhan pertanian semakin berkurang.

“Terkait pertanian, saat ini sedang menghadapi kemarau panjang yang luar biasa dan saat ini stok air sangat kurang,” ujar Sujiati.

Menurutnya, dalam situasi seperti sekarang, petani belum memiliki banyak pilihan. Lahan yang masih mempunyai sumber air menjadi salah satu tumpuan agar kegiatan pertanian tidak sepenuhnya berhenti.

“Sampai saat ini sebaiknya menggunakan lahan-lahan yang masih ada stok airnya,” katanya.

Namun, Sujiati menilai pemanfaatan lahan yang masih memiliki air hanya dapat menjadi langkah sementara. Jika kemarau terus berlangsung, ketersediaan sumber air di lahan-lahan tersebut juga berpotensi semakin terbatas.

Karena itu, ia mendorong pembangunan dan penguatan infrastruktur irigasi menjadi bagian penting dalam pengembangan pertanian PPU. Menurutnya, sistem irigasi diperlukan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap hujan dan kondisi sumber air alami.

“Kita berharap pemerintah pusat memikirkan irigasi di pertanian kita. Karena sangat membutuhkan untuk irigasi kita,” tuturnya.

Bagi Sujiati, kebutuhan irigasi tidak hanya muncul ketika kemarau berlangsung. Infrastruktur pengairan diperlukan sebagai bagian dari perencanaan pertanian jangka panjang, terutama untuk menjaga lahan tetap produktif ketika curah hujan tidak mencukupi.

Tanpa dukungan sumber air yang lebih terjamin, aktivitas pertanian akan terus menghadapi risiko ketika terjadi periode kering berkepanjangan. Petani terpaksa menyesuaikan lokasi dan pola pengelolaan lahan berdasarkan sumber air yang tersedia.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah juga dinilai perlu memiliki pemetaan yang jelas mengenai wilayah pertanian yang masih mempunyai sumber air. Data tersebut dapat digunakan untuk menentukan lahan yang masih memungkinkan dimanfaatkan selama kemarau sekaligus menjadi dasar dalam merencanakan kebutuhan infrastruktur pengairan.

“Karena kondisi alam, apa yang kita harus lakukan, ya yang bisa dilakukan hanya fokus pada lahan yang masih ada stok airnya,” jelasnya.

Sujiati berharap persoalan irigasi tidak hanya dipandang sebagai respons terhadap kemarau saat ini. Kebutuhan tersebut, kata dia, perlu masuk dalam perencanaan pembangunan sektor pertanian PPU agar persoalan ketersediaan air tidak terus berulang setiap kali musim kering berlangsung.

“Dengan sistem irigasi yang lebih memadai, petani memiliki sumber air yang lebih terjamin untuk mempertahankan aktivitas pertanian. Infrastruktur tersebut juga diharapkan dapat membuat produksi pangan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca,” tutupnya. (ADV/DPRDPPU)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *