AdventorialDPRD PPU

Perbedaan Tekanan Harga, PPU Diuntungkan Panen dan Hasil Laut Sementara Balikpapan Menguatkan Sektor Konsumsi

174
×

Perbedaan Tekanan Harga, PPU Diuntungkan Panen dan Hasil Laut Sementara Balikpapan Menguatkan Sektor Konsumsi

Sebarkan artikel ini
Hasil laut (ist)

Konus.id,PPU – Pergerakan harga kebutuhan masyarakat di Kalimantan Timur menunjukkan pola kontras pada Oktober 2025. Kota Balikpapan mengalami inflasi 0,03 persen (mtm) akibat naiknya sejumlah komoditas, sedangkan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mengalami deflasi 0,48 persen (mtm) karena turunnya harga pangan dan hasil laut. Rilis resmi disampaikan BPS dan BI Balikpapan.

Di Balikpapan, inflasi terutama dipicu naiknya harga emas perhiasan, air kemasan, semangka, kangkung, dan jeruk. Emas mengikuti tren kenaikan harga global, sementara biaya distribusi mendorong kenaikan air kemasan. Pada komoditas hortikultura, cuaca hujan tinggi menekan pasokan semangka dan kangkung, sedangkan turunnya pasokan jeruk dari dalam dan luar negeri ikut menarik harga naik.

Namun tekanan inflasi mereda berkat turunnya harga beberapa komoditas penting. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mencatat andil deflasi sebesar 0,16 persen (mtm). Bawang merah dan kacang panjang turun akibat panen melimpah di Jawa dan Sulawesi, sementara tarif angkutan udara turun pada periode low season.

Secara tahunan, Balikpapan mencatat inflasi 1,81 persen (yoy), termasuk yang paling terkendali di regional dan lebih rendah dibanding inflasi nasional 2,86 persen (yoy).

Sementara itu, PPU mencatat deflasi akibat turunnya harga ikan tongkol, ikan layang, tomat, cabai rawit, dan bawang merah. Ketersediaan hasil tangkapan nelayan meningkat signifikan, ditambah musim panen yang berlangsung di sentra produksi sehingga menekan harga bahan pangan.

Di sisi lain, beberapa komoditas masih memberikan dorongan inflasi di PPU, seperti nasi dengan lauk, emas perhiasan, daging ayam ras, serta rokok jenis SKM dan SKT. Kenaikan harga rokok terutama dipengaruhi transmisi dari penyesuaian cukai hasil tembakau (CHT), sedangkan kenaikan daging ayam ras disebabkan biaya pakan dan bibit yang meningkat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menyebut bahwa kondisi ekonomi Balikpapan tetap ekspansif. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan peningkatan ke level 119,3. Pertumbuhan transaksi QRIS juga melejit, mencapai 150,31 persen (yoy) di Balikpapan dan 160,34 persen (yoy) di PPU per September 2025, menjadi indikator meningkatnya aktivitas ekonomi digital.

Untuk menjaga stabilitas harga, BI dan TPID memperkuat berbagai langkah stabilisasi mulai dari rapat koordinasi rutin, penguatan toko penyeimbang, perluasan kerja sama antar daerah, hingga gelar pangan murah di kelurahan. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk hortikultura juga terus digencarkan. “Kami terus bersinergi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) agar inflasi daerah tetap terjaga dalam sasaran nasional 2,5 persen ± 1 persen,” kata Robi. (aw/adv/dprdppu)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *